Festival Malang Kembali

Festival Malang Kembali merupakan event pembelajaran sejarah dan merupakan salah satu cara untuk mempertahankan budaya leluhur sekaligus mengenalkan wisata budaya daerah. Malang Kembali adalah titik balik perjalanan sejarah bukan hanya bernostalgia suasana jaman dulu..Untuk itu tiap tahunnya FMK mempunyai tema pembahasan yang

berbeda misalnya,

• Malang Kembali I 2006 tentang kelahiran Kota Malang (1914-1942).

• Malang Kembali II 2007 Tentang perjuangan Kota Malang (1942-1947).

• Malang Kembali III 2008 tentang kaitan Malang sebagai unsur cikal bakal

sejarah Nasional sejak terbentuknya dataran tinggi malang, Kerajaan Kanjuruhan,

Kerajaan Singhasari, Kerajaan Majapahit, Islam Klasik sampai jaman Kolonial (6257 SM – 1947)

• Malang Kembali IV 2009 tema nya “BUDAYAKU TANGGUNG JAWABKU”(1930-1950)

• Malang Kembali V 2010 dengan tema “Rekonstruksi Budaya Panji”

C. PROSESI

Tempat kegiatan : Sepanjang Jalan Ijen Kota Malang

Waktu pelaksanaan: Setahun sekali sekitar bulan April selama 3-4 hari

Pukul: 10.00 – 24.00 wib

Jenis Kegiatan:

1. ZONA WAYANG

a. Zona Pembelajaran

Macam-macam jenis wayang, pengenalan tokoh, makna dan filosofi, macam-macam cerita, cara memainkan, cara menyungging (membuat), perlengkapan panggung, upacara2 adat, referensi (vcd, buku, cd dll) dan konsultasi, pengenalan alat musik gamelan.

b. Pameran

– Wayang kulit purwa, krucil, wahyu, kancil, beber, suket,

– Topeng Malangan dari berbagai versi (Pakisaji, Glagahdowo, Gunung Kawi dll)

c. Workshop

– Tari Malangan

– Mocopat

d. Gelar Budaya

– Wayang Krucil – Ds. Wiloso, Malang

– Wayang Kulit anak & Mocopat

– Parade tari tradisi

– Andong Malangan

2. ZONA PERJUANGAN

a. Zona Pembelajaran

– Perjuangan Pejuang2 / TRIP Malang tahun 1942-1948

– Siklus Pembanganan Pemmerintahan Malang tahun 1838-1928-2018

– Sejarah Pembangunan kolonial dan peralihan Kota Pradja

b. Pameran

– Foto,film,dan Document pemerintahan dan perjuangan Malang

– Mobil,Motor,dan sepeda kuno

– Alat alat komunikasi tempo dulu

c. Gelar Budaya

– Gelar musik keroncong

3. ZONA INDUSTRI RAKYAT

a. Zona pembelajaran mengunjungi kampung industri th.1950-an

– Pembuatan gula merah tenaga sapi

– Pembuatan alat rumah tangga dari tanah liat

– Pembuatan kerajinan besi,benda pusakadan alat pertanian(dari besi mentah s/d pewarangan)

– Pembuatan batik tulis

– Pembuatan tikar mendong,perkakas dari bamboo

– Bubut kayu manual

– Mencuci dan alat cuci kuno(klerek)

– Mengenal tradisi petan dan rasan-rasan

– Irigasi sawah(sistm.buka tutup trdisional)

– Pengenalan alat budi daya ikan tradisional

– Pembuatan alat kue tradisional ‘semprit’dengan mesin press tahun 1950-an

b. Pameran

– Duplikat sungai dan pengairan

– Duplikat hutan dan perkebunan tebu

– Duplikat pabrik gula merah tradisional

– Alat-alat peraga inndustri tradisi

4. ZONA PENDIDIKAN RAKYAT

a. Zona Pembelajaran

– Mengenal sistem pendidikan dan perkembangan sekolah di Malang sejak th. 1914-1958

– Mengenal alat peraga sekolah tempo dulu (bangku, tinta, sabak, grip)

b. Workshop

-Menggambar kaligrafi jawa dan Islam

-Permainan tradisional (dakon, semprengan,layangan, umbulan, engklek, srigendem,

tepak tekong, uyekuyek rante, jumpritan, krupukan, otong-otong bolong,

kaki klek-klek, jamuran)

– Ukir kayu

– Tari japin

c. Gelar Budaya

– Gambus/terbang jidor

– Sholawat

– Qosidah

– Gambus

5. ZONA MATA RANTAI

a. Zona pembelajaran Malang sebagai penghasil produk-produk pertanian

– Mata rantai bercocok tanam, mengolah tanah, menanam benih, mengolah sawah,

memanen, mengupas, menyimpan, mengeringkan dan memasak

– Mengusir hama tanaman secara tradisional

– Memancing belut

– Memasak masakan dan jajanan tradisiaonal

– Merawat hewan ternak(ayam, menthok, kambing,sapi)

– Menyiapkan bahan bakar kayu dan cara memasak dapur tradisioanal

b. Pameran

– Duplikat sawah dan kebun desa, duplikat kebun dan alat memasak trdisional

D. MAKNA YANG TERKANDUNG

Dalam kegiatan ini masyarakat dapat mengaktualiskan kembali potret kehidupan sejarah dan budaya nenek moyang baik dalam skala lokal maupun nasional. Dengan begitu dapat membangkitkan kembali semangat generasi muda bangsa Indonesia. Menumbuhkan inspirasi nasionalisme dalam berbangsa dan bernegara bagi setiap pengunjungnya. Menanamkan rasa senasib dan seperjuangan sesama rakyat Indonesia. Sikap kebersamaan dan gotong royong sebagai bagian dari budaya masyarakat Indonesia yang kini kian luntur oleh arus globalisasi.

Selain itu, masyarakat juga dapat menggali relevansi nilai-nilai yang tersimpan dibalik artefak-artefak masa lalu untuk disodorkan pada generasi saat ini dalam kemasan yang sejalan dengan peradaban kekinian. Dimana arus modernisasi telah membanjiri dan kian menyesaki Malang dengan barikade-barikade gedung tinggi.

Masyarakat diharapkan merenungi kembali untuk menghargai sejarah dan budaya lokal. Mempertahankan budaya nenek moyang bangsa yang kini kian terkikis habis oleh budaya hedonis dan pragmatis. Sebagai salah satu wujud nyata bahwa identitas bangsa ini masih tertanam dalam setiap jiwa sanubari rakyatnya, Dalam kegiatan ini pengunjung setidaknya memakai pakaian tradisional untuk menunjukkan kecintaanya terhadap budaya sendiri.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s